ARTIKEL
Trik Ala Nabi Muhammad SAW Hadapi Gempuran Media Sosial Dengan Sikap Qana`ah
Tanggal : 11-10-2026Kekayaan Bukan Tanda Kemuliaan, Kemiskinan Bukan Petunjuk Kehinaan
Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Rabbku telah memuliakanku”. Adapun bila Rabbnya (Allâh) mengujinya, lalu membatasi rezekinya (menjadikannya hidup dalam kekurangan), maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku” .Sekali-kali tidak (demikian), …[al-Fajr/89:15-16]
Kisah Seorang Masuk Surga Karena Sedekah Setengah Potong Roti
Kisah riwayat masyhur tentang seorang ahli ibadah yang diampuni dosanya dan masuk surga berkat sedekah sepotong roti (atau setengah potong roti). Kisah ini bersumber dari penuturan sahabat Nabi, Abu Musa Al-Asy`ari dan Ibnu Mas`ud radhiyallahu `anhuma, yang dicatat dalam kitab-kitab ulama klasik seperti Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
Berikut adalah alur kisahnya yang penuh dengan hikmah mendalam:
1. Ahli Ibadah yang Tergelincir Dosa
Dahulu kala, ada seorang lelaki saleh yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah selama 60 hingga 70 tahun di tempat pertapaannya. Namun, suatu hari ia mendapat ujian berat dan tergoda oleh seorang wanita. Ia pun tergelincir melakukan dosa besar selama beberapa malam.
2. Penyesalan dan Taubat yang Mendalam
Setelah menyadari besarnya dosa yang diperbuat, ahli ibadah ini dilingkupi rasa penyesalan yang luar biasa. Ia memutuskan untuk meninggalkan tempat ibadahnya dan mengembara tanpa membawa bekal untuk memohon ampunan Allah.
Dalam pengembaraannya, ia tiba di sebuah tempat (atau masjid) dalam kondisi yang sangat kelaparan karena berhari-hari tidak makan. Karena kelelahan, ia berbaring di antara sekelompok orang miskin.
3. Sedekah Roti di Ujung Hayat
Pada malam itu, seorang dermawan datang membagikan roti kepada orang-orang miskin di tempat tersebut. Karena disangka bagian dari mereka, sang ahli ibadah mendapatkan jatah sepotong roti.
Namun, ternyata ada satu orang miskin asli yang terlewat dan tidak kebagian jatah. Orang tersebut mengeluh kelaparan. Melihat kondisi orang tersebut, sang ahli ibadah yang juga sedang sekarat karena kelaparan merasa iba.
Tanpa ragu, ia menyerahkan roti jatahnya (dalam riwayat lain ia membaginya menjadi setengah potong untuk orang di kanan dan kirinya) dengan hati yang ikhlas. Tidak lama setelah kejadian itu, ia pun meninggal dunia.
4. Timbangan Amal di Akhirat
Saat ruhnya dicabut dan amalnya ditimbang oleh para malaikat, terjadi perhitungan yang mengejutkan:
• Ketika ibadahnya selama 70 tahun ditimbang dengan dosa maksiatnya selama beberapa malam, ternyata dosa maksiatnya lebih berat sehingga menghapus pahala ibadah panjangnya.
• Namun, ketika dosa tersebut ditimbang dengan pahala sedekah sepotong/setengah potong roti yang ia berikan secara ikhlas saat ia sendiri sedang kelaparan, ternyata sedekah roti itu jauh lebih berat.
Berkat ketulusan sedekah di saat-saat sulit tersebut, Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga.
Hikmah Utama Kisah Ini
Kisah ini menjadi bukti nyata dari sabda Rasulullah SAW : "Jagalah diri kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan bersedekah sebutir kurma (atau sepotong roti)." (HR. Bukhari).
Nilai sebuah amalan di hadapan Allah tidak selalu dilihat dari besar nominalnya, melainkan dari keikhlasan hati dan pengorbanan (itsar) yang dilakukan, terutama ketika kita sendiri sedang berada dalam kesempitan
Kemiskinan bukan ujian namun cara Allah mengangkat derajatnya.
Dalam ajaran Islam, baik kekayaan maupun kemiskinan adalah bentuk ujian (cobaan) dari Allah SWT, bukan semata-mata cara otomatis mengangkat derajat tanpa melalui proses sabar dan ikhtiar.
• Keduanya adalah ujian:
Allah menguji manusia dengan kelapangan (harta) untuk melihat rasa syukurnya, dan menguji dengan kesempitan (kemiskinan) untuk melihat kesabarannya (Al-Fajr: 15-16).
• Derajat diangkat karena responsnya:
Derajat seseorang di sisi Allah tidak diangkat karena status miskinnya secara otomatis, melainkan karena kesabaran, ketakwaan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian tersebut.
• Keutamaan akhirat:
Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan bahwa orang fakir yang beriman akan masuk surga lebih dahulu daripada orang kaya karena ringan dari hisab harta dunia, namun mereka tetap harus menjalankan kewajiban agama dan ikhtiar yang benar.
• Bukan anjuran untuk pasif:
Islam tidak mengajarkan seseorang untuk berpangku tangan atau mencintai kemiskinan; Nabi Muhammad SAW sering berlindung kepada Allah dari kekufuran dan kemiskinan (al-faqr), serta memerintahkan umatnya untuk bekerja dan berusaha mengubah nasib
Berikut adalah dalil Al-Qur`an dan Hadis yang menjelaskan hakikat kekayaan dan kemiskinan sebagai bentuk ujian, serta bagaimana keduanya menjadi sarana untuk mengangkat derajat manusia di sisi Allah.
1. Dalil Al-Qur`an tentang Ujian Kekayaan dan Kemiskinan
• Surah Al-Fajr Ayat 15-16"Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, `Tuhanku telah memuliakanku.` Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, `Tuhanku telah menghinaku.`"
• Pelajaran: Allah menegaskan bahwa kelapangan rezeki (kaya) dan kesempitan rezeki (miskin) dua-duanya adalah ujian (ibtila`). Kekayaan bukan tanda Allah cinta, dan kemiskinan bukan tanda Allah benci.
• Surah Al-Anbiya Ayat 35"...Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
• Pelajaran: Kemiskinan (kesulitan) dan kekayaan (kesenangan) dikategorikan sebagai fitnah (cobaan) untuk melihat siapa yang paling bertakwa.
2. Dalil Hadis tentang Keutamaan Orang Miskin yang Sabar
• Hadis Riwayat At-Tirmidzi (Sahih) Rasulullah bersabda: "Orang-orang fakir kaum muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya mereka dengan selisih waktu setengah hari, yang setara dengan lima ratus tahun."
• Pelajaran: Mengapa derajat mereka terangkat di akhirat? Karena mereka memiliki beban hisab (pertanggungjawaban harta) yang jauh lebih ringan daripada orang kaya.
• Hadis Riwayat Al-Bukhari Rasulullah bersabda: "Carilah ridha-Ku melalui orang-orang lemah (miskin) di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (oleh Allah) disebabkan orang-orang lemah di antara kalian."
• Pelajaran: Doa dan keikhlasan orang miskin yang tulus memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah.
3. Dalil Hadis tentang Hakikat Kekayaan dan Perlindungan dari Kemiskinan
• Kekayaan yang Hakiki (Hadis Riwayat Al-Bukhari & Muslim) Rasulullah bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati (jiwa yang merasa cukup)."
• Doa Berlindung dari Kemiskinan (Hadis Riwayat Abu Dawud & An-Nasa`i) Nabi Muhammad SAW sering berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur..."
• Pelajaran: Meskipun kemiskinan bisa meninggikan derajat lewat kesabaran, Islam tidak menyuruh umatnya pasrah pada kemiskinan, karena kemiskinan yang ekstrem berpotensi mendekatkan seseorang pada kekufuran jika tidak disertai iman yang kuat.
Rasulullah dan para sahabat menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari seberapa tebal dompet seseorang, melainkan dari bagaimana hati mereka menyikapi harta. Mereka menempatkan harta di tangan untuk mengabdi pada akhirat, bukan di dalam hati hingga memperbudak diri.
Berikut adalah potret keseimbangan cara Rasulullah dan para sahabat menyikapi harta dunia:
1. Prinsip Rasulullah: Mengambil Secukupnya, Memberikan Selebihnya
Rasulullah adalah pemimpin tertinggi yang seandainya ia mau, gunung Uhud bisa diubah menjadi emas untuknya. Namun, beliau memilih hidup bersahaja.
• Harta di Tangan, Bukan di Hati: Nabi tidak menumpuk harta. Jika ada harta atau rampasan perang yang datang, beliau langsung membagikannya hari itu juga kepada fakir miskin hingga tidak tersisa di rumahnya.
• Zuhud Aktif: Zuhudnya Nabi bukan berarti malas bekerja. Beliau adalah pedagang sukses di masa mudanya, namun ketika mengemban risalah, dunia baginya hanyalah tempat berteduh sementara. Beliau bersabda, "Apa peduliku dengan dunia? Hubunganku dengan dunia tak ubahnya seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya." (HR. At-Tirmidzi).
2. Abdurrahman bin Auf: Kaya Raya tapi Berhati Zuhud
Abdurrahman bin Auf adalah konglomerat nomor satu di kalangan sahabat. Kemampuan bisnisnya luar biasa, namun ia mempraktikkan filosofi: "Kaya harta untuk menolong agama, bukan untuk gaya hidup."
• Menjadikan Pasar sebagai Medan Jihad: Ketika hijrah ke Madinah tanpa membawa sepeser pun uang, ia menolak diberi setengah harta oleh kaum Anshar dan hanya berkata, "Tunjukkan padaku di mana pasar." Bisnisnya sukses besar karena kejujuran.
• Kedermawanan yang Ekstrem: Beliau pernah menyumbangkan seluruh kafilah dagangnya yang terdiri dari 700 unta beserta muatan bahan pangannya untuk penduduk Madinah yang kelaparan. Saat wafat, beliau meninggalkan warisan yang sangat besar, tetapi selama hidupnya, penampilannya sangat bersahaja hingga orang asing tidak bisa membedakan mana Abdurrahman bin Auf dan mana pembantunya.
• Keseimbangan: Baginya, kekayaan adalah alat untuk membeli surga lewat jalur zakat, sedekah, dan membiayai pasukan perang Islam.
3. Abu Dzar Al-Ghifari: Zuhud Ekstrem dan Anti-Penumpukan Harta
Di sisi lain, Abu Dzar Al-Ghifari mengambil jalur hidup yang sangat kontras dengan Abdurrahman bin Auf. Ia adalah lambang kesalehan dalam kemiskinan yang dipilih sendiri (voluntary poverty).
• Menolak Kemewahan Dunia: Abu Dzar sangat memegang teguh ayat-ayat tentang larangan menumpuk emas dan perak (QS. At-Taubah: 34). Bagi Abu Dzar, menyimpan harta lebih dari kebutuhan pokok sehari-hari adalah sebuah kekeliruan.
• Hidup Mandiri dan Merdeka: Ia memilih hidup sangat sederhana, makan secukupnya, dan menjauh dari hiruk-pikuk politik serta kemewahan Madinah yang mulai makmur pasca-penaklukan. Rasulullah ? memujinya sebagai orang yang sangat jujur dan berjalan sendirian dalam ketakwaannya.
• Keseimbangan: Jalur Abu Dzar membuktikan bahwa kemiskinan tidak membuatnya meminta-minta. Baginya, menjaga jarak dari dunia adalah cara paling aman untuk menjaga kesucian hati dari fitnah harta.
Kesimpulan: Dua Jalan Berbeda menuju Ridha yang Sama
Rasulullah tidak pernah mencela Abdurrahman bin Auf karena kekayaannya, dan tidak pula merendahkan Abu Dzar karena kemiskinannya. Keduanya berada di jalan keseimbangan karena:
1. Abdurrahman bin Auf lulus ujian syukur dengan tidak membiarkan hartanya masuk ke hati dan merusak ketakwaannya.
2. Abu Dzar Al-Ghifari lulus ujian sabar dan qana`ah dengan tidak membiarkan kemiskinannya membuat ia mengeluh atau iri pada orang lain
Di tengah era modern yang penuh dengan tuntutan gaya hidup, media sosial yang memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out), dan budaya konsumtif, konsep qana`ah hadir sebagai rem mental dan spiritual yang sangat efektif untuk menjaga kesehatan mental.
Secara harfiah, qana`ah berarti menerima dan merasa cukup dengan apa yang telah dikaruniakan oleh Allah SWT. Konsep ini menyelamatkan seseorang dari stres akibat tuntutan ekonomi modern melalui beberapa cara konkret berikut:
1. Memutus Rantai Hedonic Treadmill (Kesenangan yang Tak Puas)
Dalam psikologi modern, ada istilah hedonic treadmill, yaitu kondisi di mana seseorang terus mengejar materi baru (seperti ganti HP setiap tahun atau beli mobil baru), tetapi tingkat kebahagiaannya langsung kembali ke titik semula setelah barang itu didapatkan. Mereka terjebak dalam siklus kelelahan mental.
• Solusi Qana`ah: Qana`ah memutus siklus ini dengan cara mengubah fokus dari "apa yang belum dimiliki" menjadi "mengoptimalkan apa yang sudah ada". Orang yang qana`ah menyadari bahwa kebahagiaan bukan dari seberapa banyak barangnya, melainkan dari kedamaian di hatinya.
2. Mengubah Standar Perbandingan (Mengikuti Arahan Nabi)
Stres ekonomi modern sering kali bukan karena kita kekurangan makanan, melainkan karena kita selalu melihat ke atas—melihat kehidupan mewah orang lain di media sosial.
• Solusi Qana`ah: Konsep ini mempraktikkan langsung sabda Rasulullah : "Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Muslim). Ketika seseorang memandang ke bawah, stres akibat rasa minder langsung berganti menjadi rasa syukur yang menenangkan.
3. Membedakan Antara "Kebutuhan" dan "Keinginan"
Ekonomi modern dirancang agar manusia mengaburkan batasan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Iklan dan algoritma membuat kita merasa "butuh" barang-barang yang sebenarnya hanya sekadar gengsi.
• Solusi Qana`ah: Qana`ah memberikan kecerdasan emosional untuk menyaring pengeluaran. Seseorang yang qana`ah tidak akan memaksakan diri berutang (seperti menggunakan paylater atau pinjol secara konsumtif) hanya demi validasi sosial. Beban pikiran mereka jauh lebih ringan karena terbebas dari jeratan utang gaya hidup.
4. Menghilangkan Penyakit Hati: Hasad (Iri Dengki)
Tuntutan ekonomi modern sering memicu persaingan tidak sehat di lingkungan kerja atau sosial, yang pada gilirannya melahirkan penyakit hasad (iri hati melihat keberhasilan ekonomi orang lain). Hasad adalah salah satu pemicu utama stres kronis dan kecemasan.
• Solusi Qana`ah: Seseorang yang memiliki sifat qana`ah meyakini sepenuhnya konsep takdir rezeki. Mereka paham bahwa porsi rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar. Pemahaman ini membuat hati mereka damai dan ikut bahagia (atau minimal bersikap netral) saat melihat orang lain sukses.
Kesimpulan: Qana`ah Bukan Berarti Pasrah atau Malas
Penting untuk digarisbawahi bahwa qana`ah bukan berarti bersikap malas, pasif, atau tidak mau bekerja keras. Seorang muslim tetap wajib berikhtiar secara maksimal di dunia.
Namun, perbedaan besarnya terletak pada hasil akhirnya:
• Orang tanpa qana`ah: Jika target ekonominya gagal, ia akan stres, depresi, atau menghalalkan segala cara.
• Orang dengan qana`ah: Ia bekerja keras dengan totalitas, namun ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi, ia berlapang dada dan berkata, "Ini yang terbaik dari Allah untukku saat ini." Inilah yang disebut dengan kekayaan jiwa (ghina an-nafs) yang menjadi benteng utama dari stres modern
Melatih sifat qana`ah di era digital memang penuh tantangan, tetapi sangat bisa dilakukan dengan langkah-langkah konkret. Media sosial sering kali menjadi pemicu utama rasa kurang karena kita terus disajikan kurasi momen terbaik dan kemewahan hidup orang lain.
Berikut adalah tips praktis untuk melatih dan menjaga sifat qana`ah di tengah gempuran media sosial saat ini:
1. Lakukan Digital Detox dan Rapikan Media Sosial (Social Media Decluttering)
Stres dan rasa tidak bersyukur sering kali berawal dari apa yang kita lihat setiap hari. Anda punya kendali penuh atas linimasa Anda.
• Unfollow atau Mute Akun Pemicu: Segera unfollow, mute, atau block akun-akun yang sering memicu rasa minder, iri, atau keinginan impulsif untuk berbelanja barang yang tidak Anda butuhkan (termasuk akun influencer yang gemar flexing atau pamer kemewahan).
• Follow Akun Positif: Alihkan perhatian dengan mengikuti akun-akun yang menyajikan konten edukasi, ilmu agama, tips finansial yang sehat, atau konten sosial/kemanusiaan yang mengingatkan kita pada realitas kehidupan.
• Batasi Durasi Layar: Gunakan fitur pembatas waktu aplikasi (screen time limit) di ponsel Anda. Kurangi kebiasaan scrolling tanpa arah sebelum tidur dan setelah bangun tidur.
2. Praktikkan Journaling Syukur Setiap Hari
Otak manusia secara alami lebih mudah mengingat hal negatif atau kekurangan. Kita harus melatihnya secara sadar untuk melihat kelebihan.
• Tulis 3 Hal Kecil: Setiap malam sebelum tidur, tuliskan minimal 3 hal yang Anda syukuri hari itu. Jangan fokus pada hal besar saja, tulis hal-hal sederhana seperti: "Hari ini bisa makan siang tepat waktu," "Tidur nyenyak," atau "Bisa bernapas lega tanpa sakit."
• Ubah Narasi Pikiran: Ketika lintasan pikiran berkata, "Duh, rumah si A bagus banget," langsung potong dan ganti secara sadar dengan kalimat, "Alhamdulillah, rumahku saat ini nyaman dan melindungiku dari hujan dan panas."
3. Terapkan Aturan "Tunggu 48 Jam" Sebelum Membeli Sesuatu
Media sosial dan algoritma e-commerce dirancang untuk memicu belanja impulsif lewat konten ulasan (review) atau racun belanja.
• Jeda Waktu: Jika Anda melihat barang yang menarik di media sosial, jangan langsung membelinya saat itu juga. Masukkan ke dalam keranjang atau wishlist, lalu tunggu selama 48 jam (2 hari).
• Evaluasi Ulang: Setelah 2 hari, biasanya emosi Anda sudah mereda. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya benar-benar butuh barang ini, atau saya hanya ingin karena melihat orang lain memilikinya?" Sering kali, Anda akan menyadari bahwa Anda tidak membutuhkannya.
4. Agendakan Waktu untuk Menengok ke Bawah secara Nyata
Berdasarkan hadis Nabi untuk "melihat orang di bawah kita," kita perlu melihat realitas di luar dunia maya. Media sosial sering kali menciptakan gelembung (bubble) seolah-olah semua orang hidup mewah dan sukses.
• Terjun ke Lapangan: Sekali-kali, luangkan waktu untuk melihat atau berinteraksi langsung dengan orang-orang yang berjuang lebih keras secara ekonomi di sekitar Anda.
• Ikut Kegiatan Sosial: Menjadi sukarelawan di panti asuhan, membagikan makanan di jalanan, atau membantu lembaga zakat akan membuka mata hati kita bahwa fasilitas dan kehidupan yang kita miliki saat ini adalah impian besar bagi orang lain.
5. Pahami bahwa Media Sosial adalah "Panggung Sandiwara"
Ingatlah selalu bahwa apa yang tampil di media sosial hanyalah cuplikan terbaik (highlight reel) dari hidup seseorang, bukan kehidupan nyata mereka seutuhnya.
• Orang hanya memposting saat mereka makan di restoran mahal, bukan saat mereka pusing memikirkan tagihan atau cicilan.
• Orang memposting barang mewah, tetapi kita tidak tahu apakah itu hasil utang, kerja sama iklan, atau justru pemicu keretakan rumah tangga mereka.
• Menyadari bahwa di balik layar setiap orang punya ujiannya masing-masing akan meredam rasa iri di hati kita.
Lipat Gandakan Amalan Sedekah dengan meniatkan pahala sedekah kita untuk seluruh keluarga yang sudah meninggal.
Bersedekah dengan niat untuk seluruh keluarga yang sudah meninggal diperbolehkan dan pahalanya sampai menurut mayoritas ulama (Ahli Sunnah Wal Jamaah, Nahdlatul Ulama, serta Muhammadiyah memiliki pandangan tersendiri terkait teknis amal).
Niat dan Cara Mengamalkannya
Saat menyerahkan sedekah (baik berupa uang, makanan, wakaf, atau bantuan lain), Anda dapat berniat dalam hati atau mengucapkannya seperti berikut:
• Contoh Niat / Doa:
"Ya Allah, pahala sedekah ini aku niatkan untuk seluruh keluarga dan leluhurku yang sudah meninggal dunia. Terimalah amal ini sebagai penambah kebaikan bagi mereka dan penerang di alam kubur mereka."
Bentuk Sedekah yang Dianjurkan
Beberapa bentuk sedekah yang sangat baik dan menjadi amal jariyah (pahalanya terus mengalir) antara lain:
• Wakaf Al-Qur`an atau pembangunan sarana ibadah (masjid/mushola).
• Santunan kepada anak yatim, fakir miskin, atau pondok pesantren.
• Pengadaan air bersih (pembuatan sumur atau distribusi air).
• Memberi makan orang yang membutuhkan
Jika kita niatkan pahala sedekah untuk keluarga yang sudah meninggal apakah pahala kita kurang?
Tidak, pahala Anda sedikit pun tidak akan berkurang. Ketika Anda bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal, Anda mendapatkan pahala penuh karena kebaikan dan ketulusan Anda, sementara orang yang meninggal juga mendapatkan pahala penuh dari sedekah tersebut.
Allah SWT Maha Kaya dan Maha Luas kasih sayang-Nya. Memberikan pahala kepada orang lain tidak seperti membagi uang yang nilainya mengecil jika dibagi-bagi, melainkan seperti satu lilin yang menyalakan lilin-lilin lain—cahayanya semakin banyak tanpa mengurangi cahaya lilin yang pertama.
Penjelasan Para Ulama
Dalam kitab-kitab fiqih (seperti Hasyiyah al-Qulyubi), para ulama menjelaskan bahwa jika seseorang bersedekah untuk orang lain (baik yang hidup maupun yang mati), maka:
• Pahala amal tersebut sampai kepada orang yang dituju.
• Orang yang bersedekah tetap mendapatkan pahala penuh atas niat baik, pengorbanan harta, dan baktinya kepada keluarga.
Bahkan, bersedekah untuk orang tua atau keluarga yang wafat dihitung sebagai bentuk bakti anak (birrul walidain) yang mendatangkan pahala bonus tersendiri bagi Anda
Niatkan sedekah kita untuk seluruh keluarga yang sudah meninggal.
Bersedekah dengan niat untuk seluruh keluarga yang sudah meninggal diperbolehkan dan pahalanya sampai menurut mayoritas ulama (Ahli Sunnah Wal Jamaah, Nahdlatul Ulama, serta Muhammadiyah memiliki pandangan tersendiri terkait teknis amal).
Niat dan Cara Mengamalkannya.
Saat menyerahkan sedekah (baik berupa uang, makanan, wakaf, atau bantuan lain), Anda dapat berniat dalam hati atau mengucapkannya seperti berikut:
• Contoh Niat / Doa:"Ya Allah, pahala sedekah ini aku niatkan untuk seluruh keluarga dan leluhurku yang sudah meninggal dunia. Terimalah amal ini sebagai penambah kebaikan bagi mereka dan penerang di alam kubur mereka."
Bentuk Sedekah yang Dianjurkan
Beberapa bentuk sedekah yang sangat baik dan menjadi amal jariyah (pahalanya terus mengalir) antara lain:
• Wakaf Al-Qur`an atau pembangunan sarana ibadah (masjid/mushola).
• Santunan kepada anak yatim, fakir miskin, atau pondok pesantren.
• Pengadaan air bersih (pembuatan sumur atau distribusi air).
• Memberi makan orang yang membutuhkan.
#GerbangRevMen #RevMenAkademi #JalanKesadaran5D #SpiritualReligius #RevolusiMental #CeramahMasjidAlIklash
Dibaca : 27 kali
Kembali ke Artikel