ARTIKEL
Sejarah Adalah Bagian Dari Kehendak & Skenario Allah
Tanggal : 02-06-2026-
Mengapa kita tidak boleh menyesali peristiwa masa lalu baik yang kita alami atau peristiwa apapun termasuk sejarah islam. Karena bagian dari Rukun Iman.
Menyesali peristiwa masa lalu secara berlebihan, baik itu kesalahan pribadi maupun peristiwa sejarah perjalanan islam di masa lalu , adalah hal yang tidak dianjurkan karena hal tersebut berada di luar kendali kita dan dapat menghalangi potensi kita untuk bertumbuh.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita tidak boleh terlarut dalam penyesalan:
1. Dari Sudut Pandang Psikologi
Tidak dapat diubah:
Waktu terus berjalan maju. Menyesali sesuatu yang sudah terjadi hanya akan membuang energi mental dan waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki keadaan.
Menghambat masa kini:
Terlalu fokus pada "apa yang seharusnya terjadi" membuat kita kehilangan fokus dan motivasi untuk bertindak di masa kini dan merencanakan masa depan.
Bahan pembelajaran:
Setiap peristiwa, entah itu kegagalan atau kesalahan, adalah guru terbaik untuk mendewasakan diri dan membuat keputusan yang lebih bijak ke depannya.
2. Dari Sudut Pandang Islam
Ketetapan Allah (Qada dan Qadar):
Segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan, telah ditetapkan oleh Allah SWT. Menerimanya dengan ikhlas adalah bagian dari RUKUN IMAN.
Pintu penyesalan yang sehat:
Dalam Islam, penyesalan atas dosa disebut Taubat Nashuha. Jika itu adalah kesalahan agama, penyesalan harus diubah menjadi tindakan positif (memperbanyak amal dan memohon ampunan), bukan kesedihan yang berlarut-larut.
Pelajaran dari Sejarah Islam:
Peristiwa sejarah—seperti Perang Uhud di mana umat Islam sempat mengalami kekalahan—bukan untuk disesali, melainkan untuk diambil hikmahnya mengenai pentingnya kepatuhan, kesabaran, dan strategi. Begitupun dalam kontek perjalanan sejarah lainnya.
Konsep Khair (Kebaikan):
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an (Surah Al-Baqarah ayat 216), bahwa boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, atau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Apa yang terjadi di masa lalu pasti memiliki hikmah tersembunyi.
Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa :
"Apa yang melewatkanmu tidak akan pernah menjadi takdirmu, dan apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu"
Oleh karena itu, lepaskan penyesalan masa lalu dan fokuslah untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kita ambil contoh, bagaimana sikap nabi saat menerima kekalahan perang uhud?
Nabi Muhammad SAW menunjukkan sikap pemaaf, tawakal, dan berjiwa besar. Beliau tidak marah atau menghukum pasukan yang melanggar instruksi.
Sebaliknya, beliau memilih bersikap lemah lembut, memohon ampunan Allah SWT bagi mereka, dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi serta pelajaran.
Sikap-sikap teladan beliau meliputi:
1. Menerima dan Memaafkan:
Alih-alih memarahi pasukan yang tidak disiplin dan meninggalkan pos, beliau bersikap lemah lembut sesuai dengan wahyu yang diterima (Surah Ali `Imran ayat 159).
2. Berlapang Dada:
Beliau tidak menyalahkan secara langsung, melainkan merenungkan ujian tersebut untuk memperkuat keimanan dan membedakan orang-orang yang beriman.
3. Tidak Larut dalam Kesedihan:
Segera setelah pertempuran usai, beliau tetap memimpin pasukan dalam peristiwa Hamra’ul Asad untuk menunjukkan ketegaran dan mencegah serangan balik musuh.
4. Berdoa untuk Umatnya:
Beliau mendoakan kebaikan dan ampunan, serta terus memberikan bimbingan agar kaum Muslimin tetap bersatu dan belajar dari kesalahan.
Setiap kejadian di alam semesta ini terjadi atas kehendak, izin, dan kuasa Allah SWT. Tidak ada satu pun yang terjadi tanpa ketetapan-Nya.
Dalam ajaran Islam, meyakini hal ini disebut sebagai beriman kepada qadha dan qadar (takdir).
Hal ini mengajarkan kita untuk senantiasa bertawakal, bersyukur atas nikmat, dan bersabar serta ikhlas dalam menghadapi segala ujian atau ketetapan-Nya.
Segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah merupakan prinsip keimanan yang mendasar dalam Islam.
Di dalam Al-Qur`an, terdapat banyak ayat yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun peristiwa di alam semesta ini yang terjadi di luar pengetahuan dan izin-Nya.
Berikut adalah beberapa rujukan ayat Al-Qur`an yang menjelaskan hal tersebut:
1. Kekuasaan dan Kehendak Mutlak
Allah berfirman bahwa Dia memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sedangkan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
Artinya: "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Insan: 30)
2. Segala Sesuatu Atas Ketetapan-Nya.
Setiap kejadian, baik yang menyenangkan maupun yang berupa ujian, telah tertulis dan terjadi dengan izin Allah
Artinya: "Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)
3. Kunci Segala Perkara
Segala bentuk ciptaan, penentuan nasib, dan peristiwa di langit maupun di bumi berada dalam genggaman dan kuasa Allah.
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), `Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.`" (QS. Ar-Ra`d: 16)
4. Kuasa Atas Kemudahan dan Kesulitan
Tidak ada yang dapat menghalangi jika Allah telah menetapkan sesuatu.
Artinya: "Apa saja di antara rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia, maka tidak ada yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan-Nya maka tidak ada yang sanggup melepaskannya setelah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Fathir: 2)
5. Ikhtiar dan Tawakal
Meskipun segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dalam Al-Qur`an manusia tetap diperintahkan untuk berusaha (ikhtiar) dan berdoa.
Perpaduan antara ikhtiar manusia dan ketentuan Allah inilah yang disebut sebagai tawakal, di mana seorang muslim meyakini bahwa apa pun hasil akhir dari setiap ikhtiar adalah ketetapan terbaik dari Allah.
Selembar daun jatuh atas izin Allah tertuang jelas dalam Surah Al-An`am ayat 59.
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta, sekecil atau seremeh apa pun—termasuk daun yang gugur—luput dari pengetahuan dan ketetapan Allah SWT.Baca dan renungkan artinya berikut ini:
Artinya:"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)." (QS. Al-An`am: 59)
Hikmah dari Ayat Ini:
1. Kekuasaan Mutlak:
Segala sesuatu di dunia ini, baik pergerakan alam, musibah, maupun takdir, terjadi murni karena kehendak dan izin Allah.
2. Kasih Sayang Allah:
Jika daun yang jatuh saja diperhatikan dan diketahui oleh Allah, apalagi kehidupan dan doa-doa Anda. Tidak ada yang luput dari perhatian-Nya.
#GerbangRevMen #RevMenAkademi #SpiritualReligius #JalanKesadaran5D #revmen4us.
Dibaca : 40 kali
Kembali ke Artikel